Senin, 23 Februari 2015

ESP Project

Hallo! Kembali lagi bersama gue yang sedang dalam masa Try Out Gunadarma dan pra Ujian Sekolah. Well, hari ini gue mau bahas tentang salah satu mulok yang ada di sekolah gue. Nah, mulok yang satu ini baru gue dapat pas di kelas 12, karena sebelumnya waktu gue kelas 10 muloknya adalah Sinematografi, kelas 11 itu Ilmu Budaya Dasar dan sekarang kelas 12 gue dapet ESP. Apa sih ESP itu?

ESP adalah English for Special Purpose yang mengangkat Hotel Conversation sebagai dasarnya. Dari program mulok ESP ini gue dapet banyaaak banget proyek ilmu tentang kehidupan. Oh iya, nama guru ESP gue adalah Mrs. Cecilia yang super duper baik dan lucu. Gue inget banget ketika pelajaran ESP pertama kali di kelas gue, siswa yang hadir cuma ada sebelas orang (karena waktu itu udah tinggal sehari menjelang libur lebaran jadi pada males masuk).

Dari ESP ini, gue punya beberapa proyek diantaranya adalah drama dan movie. Drama ini harus ada dialog tentang hotel nya, namanya juga Hotel Conversation. Kelompok drama gue beranggotakan 10 orang, yaitu :




Edisi Formal.
(dari kiri atas): Adis as Roomgirl, Ajeng as Reception, Prasetyo as Bellboy, Gabriel as Manager, Made as Reception, Dhiva as Roomboy's Daughter, Richard as Roomboy, Desty as Tourist, Evan as Tourist, Dila as Roomgirl.


Edisi kita bahagia sudah kelar drama.


Dalam drama ini, kami mengisahkan seorang roomboy yang bingung karena tidak punya uang untuk membiayai anaknya yang sedang sakit. Pada saat yang sama, datanglah dua orang kakak beradik yang menjadi turis. Mereka kerjaannya berdebat terus karena sang kakak maunya ke Bali tapi sang adik maunya ke Monas. Karena ke-arogan sang kakak, ada beberapa pegawai salah satunya bellgirl yang kesal sama si kakak ini sampai akhirnya roomgirl selalu mengganggu mereka. Suatu hari, kalung milik sang adik tertinggal di kamar hotel dan ditemukan oleh sang roomboy. Awalnya sang kakak menuduh roomboy bahwa ia lah yang mencuri kalung tersebut. Tapi akhirnya, sang kakak meminta maaf dan berjanji tidak arogan lagi.

Proyek pertama bisa dibilang berhasil (yeay!) karena komentar bagus dari beberapa teman dan juga dari Mrs. Cecilia. Untuk proyek ini, kami butuh empat hari latihan (karena properti, script, dan teaternya sulit di eksekusi sehingga butuh beberapa hari buat match-in antara script dllnya).

Untuk proyek kedua, yaitu movie. Awalnya kelompok gue mau bikin persuasive video eee malah jadi movie. Nggak papa lah ya. Kelompok gue yang movie ini beranggotakan 6 orang, tapi sayang banget kita nggak foto berenam karena selalu lupa kalo mau foto (saking capek shooting hihi!)





Title : The Brightest Star
Cast :
-Bagas as Bintang
-Dhiva as Bulan
-Desty as Mom
-Aditya as Bintang's friend
-Shehan as Bintang's friend
-Fauzi as Bintag's friend

Movie ini menceritakan tentang kakak - adik (kayaknya gue bikin proyek gak jauh - jauh dari kakak dan adik ya) yang mana kakakknya tuh benci banget sama sang adik. Selain adiknya ini bisu, menurut sang kakak, ialah penyebab kematian ayahnya yang pernah kecelakaan bersama sang adik tiga tahun yang lalu. Endingnya, sang kakak baru tahu kalau sang adiklah yang menolongnya dari kematian.

Proses shooting ini bisa dibilang singkat, karena hanya sekitar 3-4 hari. Kita shooting nya di rumah Jawir aka Adit (makasih ya wir!), lapangan basket komplek Kopassus dan sekolah tercinta, SMAN 39. Shooting hari pertama itu seru banget. Karena udah kesorean dan nggak punya emergency lamp, akhirnya kita pake senter yang ada di hp sebagai lightning (hihi coba difoto pasti lucu deh liat ekspresi para kru). Udah gitu kita dikasih makan bakso yang super enak sama Jawir. Oh iya, kita juga makasih banget sama Shehan dan Oji yang mau bantu kita dalam proses shooting sebagai talent.

Banyak banget keseruan shooting, salah satunya lightning tadi, terus ada juga scene yang harus di take berkali - kali karena guenya kaku (hehe peace) sampai rotinya Bagas kempes banget saking keseringan di olesin selai cokelat nutell* :p Udah gitu gue belajar bahasa isyarat sama Upeh aka Dhiva buat bilang I Love You. Sekarang udah lupa tapi caranya :p Dan gue salut banget sama Made dan Ajeng yang kuat banget jadi kameramen buat nge shoot seluruh ekspresi Bagas (hahaha gue sih nggak kuat)

Well, gue sangat bersyukur bisa punya proyek ESP. Gue dapet banyak ilmu dari beberapa video angkatan gue dan ilmu baru tentang sinematografi nya dalam proses shooting hingga finishing video ini. Pengen banget upload video nya, tapi gue rasa nggak dapet ijin dari para main charactersnya, hahaha :p

Tidak ada komentar:

Posting Komentar